Heboh Euy! Ditemukan Situs Nyi Subang Larang Siliwangi di Cijambe Subang

SUBANG-Beritaaktualnews. Com- pak Uba bin Jumari yang berusia 64 tahun yang bertempat tinggal di Cileuit Rt 05, RW 01, Desa Cikadu, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, yang menjadi kuncen sejarah terbukanya Destinasi situs Subang larang yang biasa dikunjungi dan di sebut sepuh Subang. Destinasi tersebut merupakan peninggalan sejarah kerajaan Siliwangi. 

Beliau mengaku sejarah terbukanya situs di Subang larang awalnya karena beliau kedatangan sesepuh di Kesepuhan yakni Pangeran Heri dan di Kanoman yakni Amaludin Pada tanggal 17 bulan Juli 2016, Dia mengaku saat itu  kedatangan seseorang di Kesepuhan dan Sesepuh menanyakan sejarah mengenai Cileuit, kemudian Dia mengaku kedua sesepuh di bawa ke gunung dan terjadi percakapan antara Dia  dan 2 orang di Kesepuhan yang isinya menitipkan destinasi peninggalan sejarah tersebut kepada Uba.

Proses yang menjadikan Uba sebagai kuncen atau juru jaga di Situs Ibu Ratu Siliwangi (Nyi Subang larang istrinya Prabu Siliwangi ) juga di karenakan adanya silsilah keturan dari leluhur Uba yang telah menjadi juru jaga atau kuncen sepuh Subang seperti Eyang Malhari, Aki tumi, Aki Oheng, Dan bapak Jumari selaku ayah dari Uba yang telah meninggal dan sekarang mewariskan profesi juru jaga tersebut kepada Uba.


Yang disebut sepuh subang menurut Cirebon yakni biasa di sebut Ibu Ratu Siliwangi, beliau mengaku bahwa sepuh yang di Cirebon menyebutkan bahwa sepuh Subang larang sudah ditemukan dalam bentuk makom, yakni tempat yang sekarang dikelola oleh Uba yang terdapat 3 makom diantaranya makom Ibu Ratu Siliwangi, dan 2 makom selaku pengawal Ibu Ratu Siliwangi.

 Setelah tempat tersebut di kelola oleh Uba, beliau mengaku kedatangan beberapa peneliti yang telah membuktikan keaslian destinasi tersebut salasatunya adalah Kabid kebudayaan yang meneliti sekitar bulan Oktober 2020. 

Terkait dijadikan tanah situs  Uba mengaku beliau melakukan pengecekan dengan menanyakan kepada pemerintahan perhutani yakni pak Asper, dan mendapatkan jawaban dari pak Asper bahwa tanah tersebut merupakan tanah khas ( tanah situs ) dari blok petak 21 dengan luas 18,6 hektar dan di kelola oleh pak Uba sekitar 5 hektar. Lahan tersebut sudah terdapat SK penetapan tanah situs di perhutani, sementara di kementerian baru terdapat SK diduga situs. 

Pak Uba mengaku selama menjadi penjaga makam Ibu ratu Siliwangi, beliau mengaku banyak kedatangan pengunjung dari berbagai daerah seperti Lampung, Jawa timur, Aceh, Banten yang mengunjungi situs tersebut mengaku karena mendapat petunjuk.

Dan banyak terjadi kemajuan seperti pembangunan musola di tempat tersebut oleh tamu. Pak Uba mengatakan setelah terbukanya cakar budaya sesepuh kabupaten Subang, beliau berharap uluran tangan dari pemerintah untuk memajukan destinasi tersebut agar lebih terjaga, terawat dan lebih dikenal oleh masyarakat luar Subang.

Dia mengatakan untuk mempermudah akses jalan menuju ke situs sesepuh Subang atau ibu ratu siliwangi dibutuhkan bantuan dana dari pemerintah untuk membangun jalan menuju situs sepanjang 1000 meter dan sudah dibantu perluasan jalan selebar 6 meter oleh masyarakat setempat dengan gotong royong.

Saat ini pak Uba beserta rekannya berencana membangun MCK dan Leuit di tempat tersebut untuk keperluan pengunjung yang datang berziarah.


Destinasi sepuh Subang ini sangat berkaitan dengan pilar. Pak Uba sendiri mengaku bahwa beliau masih menjalin silaturahmi dengan sesepuh Cirebon dan beliau mengaku mendapat titipan gaib berupa giok dan keris yang langsung terkoneksi dengan sepuh Cirebon.” Pungkas Uba.

Sementara Menurut pemerhati Budaya Drs. Encang Kaswita ditemukannya situs Ibu Ratu siliwangi Subang larang di Cileuit secara keilmuan arkeologis, Encang mengaku mendapatkan perintah dari Sesepuh yang berasal dari Banten untuk mengunjungi sesepuh Subang.

Encang mengatakan nama Subang berawal dari sesepuh Subang, kemudian Encang mengaku mencari tempat yang sekarang menjadi destinasi ibu Ratu siliwangi yang di perintahkan oleh Sesepuh asal Banten tersebut dan bertemu dengan Uba.

Encang mengatakan dia mempertanyakan ciri-ciri mengenai destinasi Subang larang yang ia dapat dari Sesepuh asal Banten kepada Uba, kemudian Uba menjelaskan apa yang dikatakan sesepuh asal Banten itu benar adanya. 

Encang mengatakan karena berdasarkan apa yang dikatakan Sesepuh asal Banten dan bukti yang ada, dia menyimpulkan bahwa nama kota Subang berasal dari kata Subang larang. Dia mengatakan yang menjadi pertanyaan Encang saat itu karena adanya situs Subang larang yang juga bertempat di Binong. 

“Namun setelah ditelusuri  dan hasil dari keterangan tim arkeolog dari Bandung, dinas pendidikan kebudayaan dan kasih jalanitra yang memimpin langsung vestigasi kelapangan telah menemukan beberapa artepak pecahan porselin, Encang mengatakan bahwa profesor Deni juga menemukan artepak yang kemudian langsung diteliti.

Kemudian Encang mengatakan hasil dari penelitian artepak pecahan porselin tersebut menurut profesor Deni merupakan peninggalan pada Dinasti tang abad ke-7 Masehi, selain abad ke-7 profesor Deni juga menemukan artepak pecahan porselin abad ke-12, kemudian profesor Deni menyimpulkan bahwa pada abad ke-7 dan ke-12 di Gunung Cikadu, kampung Cileuit ini telah ada kelompok masyarakat yang terstruktur, artinya telah terbentuk kepemimpinan dalam masyarakat pada abad itu serta sudah melakukan hubungan dengan Dunia luar.

Dengan bukti bahwa artepak porselin yang di temukan merupakan salasatu import dari Tiongkok. Setelah itu Encang mengaku bahwa dia memperlihatkan hasil penemuan di gunung Cikadu, kampung Cileuit yang berupa keris Jawa, Kujang, serta bingkai foto yang bertuliskan 1367 Masehi yang terbuat dari giok kepada profesor Deni, dan itu membuktikan bahwa 1367 Masehi pada abad ke-14 akhir tempat tersebut sudah didiami oleh masyarakat yang sudah tersetekruktur.

 Encang mengatakan yang menjadi persoalan yaitu ketidak seriusan pemerintah kabupaten Subang tentang mencari jati diri Subang, Encang sendiri sangat prihatin terhadap kata Subang yang sering di plesetkan pada hal yang tidak senonoh padahal pada kenyataannya terdapat artepak budaya yang menunjukkan bahwa kota Subang itu berasal dari nama Nyimas Subang larang. 

Lanjut Encang mengatakan dikarenakan  nama Subang larang tidak mau bertabrakan dengan yang di Tangerang Cibinong maka hasil dari konsultasi Dinas pendidikan kebudayaan kabupaten Subang di ambil keputusan nama tidak menggunakan Ibu Subang larang namun menggunakan nama Ibu Ratu Prabu  Siliwangi, dan nama Ibu ratu Prabu Siliwangi ini juga telah disepakati oleh Kesepuhan dan Kanoman dari Cirebon. 

“Saat ini dia beserta rekannya yang lain sedang membuat akses jalan ke tempat destinasi tersebut yang bertujuan agar Masyarakat mengetahui bahwa Subang itu terbentuk disana, karena pada tanggal 5 April 1948 daerah gunung Cikadu tersebut dijadikan sebagai central perjuangan revolusi fisik melawan penjajah Belanda dan dibuktikan dengan keberadaan Tugu di daerah tersebut.

Kami berharap kepada pemerintah kabupaten Subang untuk membentuk tim yang bertujuan untuk menggali Jati diri Subang, karena tidak akan tercapai tingkat kesejahteraan sosial masyarakat jika tidak dapat menemukan jati diri Subang itu sendiri.


Menghimbau kepada para pencari benda-benda unik atau pemburu harta Karun tolong jangan sampai merusak tatanan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang sehingga kita sebagai bangsa kehilangan jati diri dan tidak tahu asal usul kita sendiri.


Setelah melihat jejak budaya situs di kampung Cileuit ini ia sangat berharap bahwa pemerintah menjadikan tempat tersebut sebagai cagar budaya kabupaten Subang serta pusat wisata religi dan pusat wisata alam di tengah-tengah hutan lindung kabupaten Subang.

Sudah mendapatkan gambaran dari dinas pendidikan kebudayaan bahwa untuk tahun ini tempat tersebut akan masuk ke exapasi budaya dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Jawa barat yang bekerja sama dengan badan arkeologi Nasional, bukan hanya Cileuit yang kaya akan sejarah.


Disebelah Utara Gunung Cikadu terdapat juga situs pasir cabe yang tahun ini masuk ke situs cagar budaya, dan disana juga banyak ditemukan barang-barang berharga yang bernilai sejarah tinggi serta fosil binatang purba, Subang sendiri kaya akan sejarah namun karena minimnya intelektual masyarakat dan kurangnya kesadaran pemerintah menjadikan kota Subang tertinggal dari kota-kota yang lain seperti Purwakarta, Bandung barat, dan Garut yang mengangkat nilai budaya dan memasukkannya kedalam skala prioritas sehingga budaya kota-kota lain lebih menonjol dan terlihat kemajuannya.

Atas nama pribadi, atas nama pemerhati budaya serta atas nama Masyarakat, Dia mendesak kepada pemerintah kabupaten Subang untuk lebih intens terhadap peninggalan sejarah di seluruh kabupaten Subang. Kemudian Encang mengatakan bahwa dia prihatin terhadap anggaran dinas pendidikan dan kebudayaan itu sangat minim jika di bandingkan dengan bidang lain yang diamana sebenarnya kajian bidang budaya ini sangat penting agar masyarakat lebih tau.

Situs budaya ibu ratu prabu Siliwangi dan pasir cabe telah mendapat banyak perhatian khusus, salasatunya dari badan arkeolog nasional.

Oada awal Desember telah menemukan 10 artepak di Cileuit, kemudian pada tanggal 31 Desember menemukan lebih banyak artepak lagi. Perkembangan sejarah bagi kabupaten Subang, Cileuit ini sangat luar biasa tuturnya. 

Mengapa Cileuit dan pasir cabe tidak ditemukan sejak dulu karena itu merupakan taktik penjajah agar masyarakat Subang  melupakan sejarah masalalu dan jatidirinya dan hanya mengenal ketika kedatangan penjajahan Rafles dari Inggris, dan Subang sendiri dikenal dengan PNT sementara pada kenyataannya jauh dari itu sudah banyak sejarah di Subang.  

Sejak  dulunya sudah terdapat istana, selain itu Subang sendiri merupakan daerah dari induknya parawali serta pemimpin di Nusantara. 

Ia pernah membaca babad pertasinga mengatakan bahwa ibu ratu prabu Siliwangi atau ibu ratu Subang larang tercatat bahwa beliau beristirahat di wilayah pegunungan tambakan, dia berpikir bahwa pegunungan tambakan tersebut merupakan gunung kujang, namun ternyata banyak bukti kuat yang merujuk pada gunung Cikadu kampung Cileuit karena merupakan wilayah BKPH perhutani tambakan dan seorang keturunan kerajaan atau orang terhormat tidak dikuburkan atau beristirahat di daerah pedataran.

Orang-orang tersebut pada zaman itu pasti selalu dikuburkan di daerah dataran tinggi atau pegunungan karena derajat strata sosialnya lebih tinggi. Dia juga mengatakan bahwa banyak bukti yang telah menunjukkan bahwa benar adanya situs ibu ratu prabu Siliwangi bertempat di gunung Cikadu kampung Cileuit”, ujarnta

Menurut profesor Deni gunung Cikadu yang dikeramatkan oleh masyarakat Cileuit tersebut jika dilihat secara fisik berbentuk punden berundak. 

Berharap situs ini menjadi pemberdayaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Wakil Presiden KH. Maruf Amin dan Gubernur Jawa Barat M.Ridwan Kamil yang menurut alur sejarah masih keturunan Prabu Siliwangi diharapkan untuk mendukung dan membantu kesejahteraan masyarakat serta Pemberdayaan situs tersebut. ” Tutur Encang Kaswita (ade/bds)

Bagikan: